Ontologi, Epistemologi, dan Aksiologi

PENDAHULUAN

Manusia tidak seperti benda-benda. Ia berada di tengah dunia dengan caranya yang khas. Yaitu bahwa manusia sadar akan benda-benda yang ada di sekitarnya. Kesadaran akan kehadiran yang lain ini melahirkan pengetahuan. Dalam proses mengetahui itu, manusia mencoba menggunakan apa yang dimilikinya, indera dan akal budi.

Tatkala manusia baru lahir, ia tidak mempunyai mempunyai pengetahuan sedikit pun. Nanti, ketika ia berumur 40 tahunan, pengetahuannya banyak sekali sementara temannya yang seumuran dengannya mungkin memiliki pengetahuan yang lebih banyak daripadanya dalam bidang yang sama ataupun berbeda. Bagaimana masing-masing dari mereka mendapatkan pengetahuan itu? Mengapa tingkat akurasinya bisa berbeda? Apakah pengetahuan tersebut didapatkan secara kebetulan atau merupakan kehendak Tuhan?

Mulai dari kebetulan hingga kehendak Tuhan inilah yang merupakan pengetahuan filsafat. Jawaban-jawaban itu semua hanya berdasarkan pemikiran logis, tanpa dukungan fakta empiris. Berpikir tanpa dukungan data seperti ini sering juga disebut berpikir spekulatif, dan inilah yang disebut filsafat.

Makalah ini akan memaparkan tentang filsafat yang secara garis besar dibagi menjadi tiga cabang, yaitu ontologi, epistemologi, dan aksiologi. Ontologi membicarakan tentang hakikat pengetahuan. Epistemologi membicarakan cara memperoleh pengetahuan. Sedangkan aksiologi membicarakan tentang teori nilai. Ketiga dari cabang filsafat tersebut termuat dalam tiga pertanyaan dimana dalam ontologi bertanya tentang apa. Pertanyaan apa tersebut merupakan pertanyaan dasar dari sesuatu. Sedangkan dalam epistemologi mengenalinya dengan menggunakan pertanyaan mengapa. Pertanyaan mengapa ini merupakan kelanjutan dari mengetahui dasar dan pertanyaan mengapa merupakan kajian bagaimana cara mengetahuinya tersebut. Sedangkan untuk aksiologi merupakan kelanjutan dari dari epistemologi dengan menggunakan pertanyaan bagaimana. Pertanyaan bagaimana tersebut merupakan kelanjutan dari setelah mengetahui dan cara mengetahuinya diteruskan dengan bagaimanakah sikap kita selanjutnya.

PEMBAHASAN

ONTOLOGI, EPISTEMOLOGI, DAN AKSIOLOGI

A. ONTOLOGI

Ontologi berarti ilmu hakikat yang menyelidiki alam nyata dan bagaimana keadaan yang sebenarnya, apakah hakikat di balik alam nyata ini. Ontologi menyelidiki hakikat dari segala sesuatu dari alam nyata yang sangat terbatas bagi panca indera kita. Bagaimana realita yang ada ini, apakah materi saja, apakah wujud sesuatu ini bersifat tetap, kekal tanpa perubahan? Apakah realita berbentuk satu unsur (monisme), dua unsur (dualisme), ataukah terdiri dari unsur yang banyak (pluralisme)?

Apa itu hakikat? Hakikat ialah realitas, realitas berasal dari kata real yang berarti nyata, realitas diartikan sebagai kenyataan yang sebenarnya. Jadi, hakikat adalah kenyataan yang sebenarnya, keadaan sebenarnya sesuatu, bukan keadaan sementara atau keadaan yang menipu, bukan keadaan yang berubah.

Kosmologi[1] membicarakan hakikat asal, hakikat susunan, hakikat berada, juga hakikat tujuan kosmos. Adapun hakikat manusia dbicarakan dalam ilmu antropologi, ini juga cabang teori hakikat. Pembahasan hakikat Tuhan dilakukan oleh theodicea, juga cabang dari teori hakikat. Theodicea sering juga disebut theologia yang membicarakan tentang filsafat agama. Filsafat agama juga termasuk ke dalam teori hakikat, demikian pula filsafat hukum, filsafat pendidikan, dan lain-lain.

Mula-mula kita bicarakan realitas benda-benda. Apakah sesuai dengan penampakannya (appearance) atau sesuatu yang bersembunyi di balik penampakan itu? Menjawab pertanyaan ini muncul 5 aliran, yaitu materialisme, idealisme, dualisme, skeptisisme, dan agnostisisme.

  • Materialisme

    Materialisme merupakan faham atau aliran yang menganggap bahwa dunia ini tidak ada selain materi atau nature (alam) dan dunia fisik adalah satu. Menurut materialisme (sering disebut naturalisme), hakikat benda adalah materi, benda itu sendiri. Rohani, jiwa, spirit, dan sebangsanya muncul dari benda. Rohani dan kawan-kawannya itu tidak akan ada seandainya tidak ada benda. Bagi materialisme, roh, jiwa itu malahan tidak diakui adanya, tentu saja termasuk Tuhan. Materialisme tidak menyangkal adanya spirit, roh, termasuk Tuhan. Akan tetapi spirit, Tuhan itu muncul dari benda. Jadi, roh, Tuhan, spirit itu bukan hakikat.

    Pada abad pertama masehi faham materialisme tidak mendapat tanggapan yang serius, bahkan pada abad pertengahan, orang masih menganggap asing faham ini. Baru pada zaman aufklarung (pencerahan)[2], faham ini mendapat tanggapan dan penganut yang penting di Eropa Barat. Pada pertengahan abad ke-19, faham materialisme semakin tumbuh subur, khususnya di Barat .
    Tokoh-tokoh yang mendukung faham ini adalah:
    1. Anaximenes (585-528 SM)
    2. Anaximandros (610-545 SM)
    3. Thales (625-545 SM)
    4. Demokritos (460-545 SM)
    5. Thomas Hobbes (1588-1679)
    6. Lamettrie (1709-1715)
    7. Feuerbach (1804-1877)
    8. H. Spencer (1820-1903)
    9. Karl Marx (1818-1883)

    • Idealisme

      Idealisme adalah faham atau aliran yang menganggap bahwa realitas ini terdiri dari roh-roh (sukma) atau jiwa, spirit berbanding terbalik dengan materialisme. Idealisme ini merupakan aliran yang sangat penting dalam perkembangan sejarah pikiran manusia. Mula-mula

      Beberapa pendapat ahli mengenai idealisme ialah:
      - Nilai roh lebih tinggi daripada badan
      - Manusia lebih dapat memahami dirinya daripada dunia luar dirinya.
      - Materi ialah kumpulan energi yang menempati ruang, benda tidak ada, yang ada energi itu saja.

      Tokoh-tokoh aliran idealisme yaitu:
      1. Plato (477-347 SM)
      2. B. Spinoza (1632-1677)
      3. Liebniz (1685-1753)
      4. Berkeley (1685-1753)
      5. Immanuel Kant (1724-1881)
      6. J. Fichte (1762-1814)
      7. F. Schelling (1755-1854)
      8. G. Hegel (1770-1831)

      • Dualisme

        Dualisme adalah konsep filsafat yang menyatakan ada dua substansi. Dalam pandangan tentang hubungan antara jiwa dan raga, dualisme mengklaim bahwa fenomena mental adalah entitas non-fisik. Menurut faham ini, yang merupakan hakikat benda itu ada dua, material dan immaterial, benda dan roh, jasad dan spirit. Materi bukan muncul dari roh, dan roh bukan muncul dari benda. Keduanya sama-sama hakikat.

        Dualisme adalah suatu aliran filsafat yang pandangannya bertitik tolak dari materi dan ide sekaligus. Dualisme memandang bahwa materi dan ide itu sama-sama primernya. Tidak ada yang sekunder. Kedua-duanya timbul dan ada persamaan. Materi itu ada karena ada ide atau pikiran. Juga sebaliknya, ide atau pikiran itu ada karena ada materi. Tapi pada hakekatnya, pandangan dualisme yang demikian itu juga idealis, karena pandangan seperti itu tidak lain hanya pada ide, dan tidak ada dalam kenyataan.

        Dengan begitu, Filsafat materialisme adalah filsafat yang obyektif. Sebaliknya, filsafat idealisme adalah filsafat yang subyektif karena pandangannya bertitik tolak dari ide atau pikiran.

        Gagasan tentang dualisme jiwa dan raga berasal setidaknya sejak zaman Plato dan Aristoteles dan berhubungan dengan spekulasi tantang eksistensi jiwa yang terkait dengan kecerdasan dan kebijakan. Plato dan Aristoteles berpendapat, dengan alasan berbeda, bahwa “kecerdasan” seseorang (bagian dari pikiran atau jiwa) tidak bisa diidentifikasi atau dijelaskan dengan fisik.

        Versi dari dualisme yang dikenal secara umum diterapkan oleh René Descartes (1641), yang berpendapat bahwa pikiran adalah substansi nonfisik. Descartes adalah yang pertama kali mengidentifikasi dengan jelas pikiran dengan kesadaran dan membedakannya dengan otak, sebagai tempat kecerdasan. Sehingga, dia adalah yang pertama merumuskan permasalahan jiwa-raga dalam bentuknya yang ada sekarang.

        Dualisme bertentangan dengan berbagai jenis monisme[3], termasuk fisikalisme dan fenomenalisme. Substansi dualisme bertentangan dengan semua jenis materialisme, tetapi dualisme properti dapat dianggap sejenis materialisme emergent sehingga akan hanya bertentangan dengan materialisme non-emergent.

        • Skeptisisme

          Skeptisisme disebut-sebut sebagai sebuah aliran yang menekankan pada tidak adanya klaim terhadap kebenaran. Dengan kata lain, tidak ada kebenaran yang sempurna, adanya kebenaran relatif. Dalam arti yang modern, skeptisisme adalah sebuah pendekatan dalam menerima, menolak, menunda klaim (judgment) pada informasi baru lainnya yang digunakan sebagai bukti pendukung. Dalam hal hakikat, faham ini ragu apakah manusia mampu mengetahui hakikat. Mungkin dapat, mungkin juga tidak. Skeptisisme

          • Agnostisisme

            Agnostisisme adalah suatu pandangan filosofis bahwa suatu nilai kebenaran dari suatu klaim tertentu yang umumnya berkaitan dengan teologi, metafisika, keberadaan Tuhan, dewa, dan lainnya yang tidak dapat diketahui dengan akal pikiran manusia yang terbatas. Seorang agnostik mengatakan bahwa adalah tidak mungkin untuk dapat mengetahui secara definitif pengetahuan tentang “Yang-Mutlak”; atau dapat dikatakan juga, bahwa walaupun perasaan secara subyektif dimungkinkan, namun secara obyektif pada dasarnya mereka tidak memiliki informasi yang dapat diverifikasi.

            Dalam kedua hal ini maka agnostisisme mengandung unsur skeptisisme.
            Agnostisisme berasal dari perkataan Yunani gnostein (tahu) dan a (tidak). Arti harfiahnya “seseorang yang tidak mengetahui”. Agnostisisme tidak sinonim dengan atheisme. Agnotisisme merupakan faham ketuhanan yang terletak antara teisme dan atheisme. Mereka itu bertuhan tidak dan tidak bertuhan juga tidak. Faham ini beranggapan bahwa manusia tidak mampu mengetahui hakikat Tuhan.

            B. EPISTEMOLOGI

            Epistemologi berasal dari kata Yunani espisteme (pengetahuan) dan logos (ilmu) adalah cabang filsafat yang berkaitan dengan asal, sifat, dan jenis pengetahuan. Epistemologi merupakan pengetahuan yang berusaha menjawab pertanyaan-pertanyaan seperti apakah pengetahuan, cara manusia memperoleh dan menangkap pengetahuan dan jenis-jenis pengetahuan. Menurut epistemologi setiap pengetahuan manusia merupakan hasil dari pemeriksaan dan penyelidikan benda hingga akhirnya diketahui manusia. epistemologi membahas sumber, proses, syarat, batas fasilitas dan hakikat pengetahuan yang memberikan kepercayaan dan jaminan bagi guru bahwa ia memberikan kebenaran kepada murid-muridnya.

            Pengetahuan manusia ada tiga macam, yaitu pengetahuan sains, pengetahuan filsafat, dan pengetahuan mistik. Pengetahuan itu diperoleh manusia melalui berbagai cara dan dengan menggunakan berbagai alat. Ada beberapa aliran yang berbicara tentang ini.

            • Empirisme

            Kata ini berasal dari kata Yunani empeirikos yang berasal dari kata empeiria, artinya pengalaman. Menurut aliran ini manusia memperoleh pengetahuan melalui pengalamannya. Dan bila dikembalikan kepada kata Yunaninya, pengalaman yang dimaksud ialah pengalaman inderawi. Karena itulah metode penelitian yang menjadi tumpuan aliran ini adalah metode eksperimen.

            John Locke (1632-1704), bapak aliran ini pada zaman modern mengemukakan teori tabula rasa yang secara bahasa berarti meja lilin atau dapat diartikan sebagai catatan yang kosong. Maksudnya ialah bahwa manusia itu pada mulanya kosong dari pengetahuan, lantas pengalamannya mengisi jiwa yang kosong itu, kemudian ia memiliki pengetahuan. Di dalam buku catatan itulah dicatat pengalaman-pengalaman inderawi. Menurut Locke, seluruh sisa pengetahuan kita diperoleh dengan jalan menggunakan serta memperbandingkan ide-ide yang diperoleh dari penginderaan serta refleksi yang pertama-pertama dan sederhana tersebut.

            Ia memandang akal sebagai sejenis tempat penampungan,yang secara pasif menerima hasil-hasil penginderaan tersebut. Ini berarti semua pengetahuan kita betapapun rumitnya dapat dilacak kembali sampai kepada pengalaman-pengalaman inderawi yang pertama-tama, yang dapat diibaratkan sebagai atom-atom yang menyusun objek-objek material. Apa yang tidak dapat atau tidak perlu di lacak kembali secara demikian itu bukanlah pengetahuan, atau setidak-tidaknya bukanlah pengetahuan mengenai hal-hal yang factual.

            Kelemahan aliran ini cukup banyak, yaitu:
            - Indera terbatas
            - Indera menipu
            - Objek yang menipu
            - Berasal dari indera dan objek sekaligus

            • Rasionalisme

            Secara singkat aliran ini menyatakan bahwa akal adalah dasar kepastian pengetahuan. Pengetahuan yang benar diperoleh dan diukur dengan akal. Manusia, menurut aliran ini, memperoleh pengetahuan melalui kegiatan akal menangkap objek.

            Bapak aliran ini adalah Rene Descartes(1596-1650). Sesungguhnya faham seperti ini sudah ada jauh sebelum itu. Orang-orang Yunani Kuno telah meyakini juga bahwa akal adalah alat dalam memperoleh pengetahuan yang benar, lebih-lebih pada Aristoteles.

            Bagi aliran ni kekeliruan pada aliran empirisme yang disebabkan kelemahan alat indera dapat dikoreksi seandainya akal digunakan. Rasionalisme tidak mengingkari kegunaan indera dalam memperoleh pengetahuan, pengalaman indera diperlukan untuk merangsang akal dan memberikan bahan-bahan yang menyebabkan akal dapat bekerja. Akan tetapi, untuk sampainya manusia kepada kebenaran adalah semata-mata dengan akal. Laporan indera menurut rasionalisme merupakan bahan yang belum jelas, kacau. Bahan ini kemudian dipertimbangkan oleh akal dalam pengalaman berpikir. Akal mengatur bahan itu sehingga dapatlah terbentuk pengetahuan yang benar. Jadi, akal bekerja karena ada bahan dari indera. Akan tetapi, akal dapat  juga menghasilkan pengetahuan yang tidak berdasarkan bahan inderawi sama sekali. Jadi, akal dapat juga menghasilkan pengetahuan tentang objek yang betul-betul abstrak.

            Kelemahan aliran ini adalah akal hanya sanggup memikirkan sebagian dari objek. Manusia mampu menangkap keseluruhan objek hanyalah dengan intuisinya.

            Kerja sama empirisme dan rasionalisme atau rasionalisme dan empirisme inilah yang melahirkan metode sains (scientific method), dan dari metode ini lahirlah pengetahuan sains (scientific knowledge) yang dalam bahasa Indonesia sering disebut pengetahuan ilmiah atau ilmu pengetahuan.

            • Fenomenalisme

            Bapak Fenomenalisme adalah Immanuel Kant. Kant membuat uraian tentang pengalaman. Baran sesuatu sebagaimana terdapat dalam dirinyan sendiri merangsang alat inderawi kita dan diterima oleh akal kita dalam bentuk-bentuk pengalaman dan disusun secara sistematis dengan jalan penalaran. Karena itu kita tidak pernah mempunyai pengetahuan tentang barang sesuatu seperti keadaanya sendiri, melainkan hanya tentang sesuatu seperti yang menampak kepada kita, artinya, pengetahuan tentang gejala (Phenomenon).

            Bagi Kant para penganut empirisme benar bila berpendapat bahwa semua pengetahuan di dasarkan pada pengalaman-meskipun benar hanya untuk sebagian. Tetapi para penganut rasionalisme juga benar, karena akal memaksakan bentuk-bentuknya sendiri terhadap barang sesuatu serta pengalaman.

            • Positivisme

            Tokoh aliran ini ialah August Compte (1798-1857). Ia penganut empirisme dan berpendapat bahwa indera itu amat penting dalam memperoleh pengetahuan, tetapi harus dipertajam dengan alat bantu dan diperkuat dengan eksperimen. Kekeliruan indera akan dapat dikoreksi lewat eksperimen. Eksperimen memerlukan ukuran-ukuran yang jelas. Kebenaran diperoleh dengan akal, didukung bukti empiris yang terukur. Terukur itulah sumbangan positivisme.

            Jadi pada dasarnya positivisme bukanlah suatu aliran yang khas berdiri sendiri. Ia hanya menyempurnakan empirisme dan rasionalisme yang bekerja sama. Dengan kata lain, ia menyempurnakan metode ilmiah (scientific method) dengan memasukkan perlunya eksperimen dan ukuran-ukuran. Jadi, pada dasarnya positivisme itu sama dengan empirisme plus rasionalisme.

            • Intuisionisme

            Henri Bergson (1859-1941) adalah tokoh aliran ini. Ia menganggap tidak hanya indera yang terbatas, akal juga terbatas. Objek-objek yang kita tangkap itu adalah objek yang selalu berubah.

            Dengan menyadari keterbatasan indera dan akal, Bergson mengembangkan satu kemampuan tingkat tinggi yang dimiliki manusia, yaitu intuisi. Ini adalah hasil evolusi pemahaman yang tertinggi. Pengembangan kemampuan ini memerlukan suatu usaha. Kemampuan inilah yang dapat memahami kebenaran yang utuh, yang tetap dan keseluruhan.

            Jadi, indera dan akal hanya mampu menghasilkan pengetahuan yang tidak utuh, sedangkan intuisi dapat menghasilkan pengetahuan yang utuh, tetap.

            Ada sebuah isme lagi yang barangkali mirip sekali dengan intuisionisme, namanya iluminasionalisme. Aliran ini berkembang di kalangan tokoh-tokoh agama, di dalam Islam disebut teori Kasyf. Teori ini menyatakan bahwa manusia yang hatinya telah bersih, telah siap, sanggup menerima pengetahuan dari Tuhan.

            Kemampuan menerima pengetahuan secara langsung itu diperoleh dengan cara latihan (Riyadhoh). Secara lebih umum metode ini diajarkan di dalam thariqat. Dari kemampuan ini dapat dipahami bahwa mereka tentu mempunyat pengetahuan tingkat tinggi yang banyak sekali dan amat meyakinkan. Pengetahuan itu diperoleh bukan lewat indera dan bukan lewat akal, melainkan lewat hati.

            C. AKSIOLOGI

            1. Pengertian Aksiologi

            Aksiologi merupakan cabang filsafat ilmu yang mempertanyakan bagaimana manusia menggunakan ilmunya. Secara etimologis aksiologi berasal dari kata Yunani axios (nilai) dan logos (teori), yang berarti teori tentang nilai. Jadi aksiologi merupakan cabang filsafat yang mempelajari nilai. Aksiologi merupakan bagian dari filsafat yang menaruh perhatian tentang baik dan buruk (good and bad), benar dan salah (right and wrong), serta tentang cara dan tujuan (means and ends). Aksiologi mencoba merumuskan suatu teori yang konsisten untuk perilaku etis. Aksiologi terdiri dari analisis tentang kepercayaan, keputusan, dan konsep-konsep moral dalam rangka menciptakan atau menemukan suatu teori nilai.

            2. Karakteristik dan Tingkatan Nilai

            Ada beberapa karakteristik nilai yang berkaitan dengan teori nilai, yaitu:

            1. Nilai objektif atau subjektif
            Nilai itu objektif jika ia tidak bergantung pada subjek atau kesadaran yang menilai; sebaliknya nilai itu subjektif jika eksistensinya, maknanya, dan validitasnya tergantung pada reaksi subjek yang melakukan penilaian, tanpa mempertimbangkan apakah ini bersifat psikis atau fisik.

            2. Nilai absolute atau berubah
            Suatu nilai dikatakan absolute atau abadi, apabila nilai yang berlaku sekarang sudah berlaku sejak masa lampau dan akan berlaku serta abash sepanjang masa, serta akan berlaku bagi siapapun tanpa memperhatikan ras, maupun kelas sosial. Dipihak lain ada yang beranggapan bahwa semua nilai relative sesuai dengan keinginan atau harapan manusia.

            Terdapat beberapa pandangan yang berkaitan dengan tingkatan/hierarki nilai :
            1. Kaum Idealis
            Mereka berpandangan secara pasti terhadap tingkatan nilai, dimana nilai spiritual lebih tinggi daripada nilai non spiritual (niai material).

            2. Kaum Realis
            Mereka menempatkan niai rasional dan empiris pada tingkatan atas, sebab membantu manusia menemukan realitas objektif, hokum-hukum alam dan aturan berfikir logis.

            3. Kaum Pragmatis
            Menurut mereka, suatu aktifitas dikatakan baik seperti yang lainnya, apabila memuaskan kebutuhan yang penting, dan memiliki nilai instrumental. Mereka sangat sensitive terhadap nilai-nilai yang meghargai masyarakat.

            3. Jenis Nilai

            Aksiologi dalam cabang filsafat dapat dibedakan menjadi 2 yaitu:
            a. Nilai Etika
            Etika yang berasal dari kata Yunani ethos yang berarti adat kebiasaan. Dalam istilah lain banyak ahli mengartikannya sebagai moral.  Etika merupakan teori tentang nilai, pembahasan secara teoritis tentang nilai, ilmu kesusilaan yang meuat dasar untuk berbuat susila. Sedangkan moral pelaksanaannya dalam kehidupan. Etika merupakan cabang filsafat yang membicarakan perbuatan manusia. Cara memandangnya dari sudut baik dan tidak baik, etika merupakan filsafat tentang perilaku manusia. Jadi, nilai etika adalah teori perbuatan manusia yang ditimbang menurut baik atau buruk dan tentang hak dan kewajiban moral.

            b. Nilai Estetika
            Estetika merupakan nilai-nilai yang berkaitan dengan kreasi seni dengan pengalaman-pengalaman kita yang berhubungan dengan seni. Hasil-hasil ciptaan seni didasarkan atas prinsip-prinsip yang dapat dikelompokkan sebagai rekayasa, pola, bentuk dsb. Nilai estika adalah telaah filsafat tentang keindahan serta keindahan, dan tanggapan manusia terhadapnya.

            4. Nilai dan Penilaian

            Nilai juga bersifat tetap. Jelek, indah, penyayang itu tidak berubah. Yang berubah adalah penilaian oleh manusia. Oleh karena itu tidak tepat dikatakan bahwa ada pergeseran nilai karena nilai tidak pernah berubah. Yang bergeser adalah persepsi atau penilaian manusia. Vincent Van Gogh adalah seorang pelukis yang dilahirkan di Zundert, sebuah kota di Belanda Selatan pada tanggal 30 Maret 1853. Ia mati bunuh diri pada tanggal 28 Juli 1890. Kemiskinan dan karya seninya yang tidak diapresiasi yang merupakan penyebab kematiannya. Pada saat itu, lukisan Van Gogh tidak memiliki arti apa pun di masyarakat, tetapi seratus tahun kemudian karyanya diagungkan semua orang.

            Ini hanya sebuah contoh bahwa lukisan Van Gogh memiliki nilai, apapun nilai itu tidak akan pernah berubah. Ini menjadikan alasan bahwa penilaian manusialah yang berubah. Pada masa lalu lukisan Van Gogh bukan apa-apa, tapi hingga saat ini lukisannya merupakan Masterpiece di mata masyarakat dunia, khususnya Belanda dan Perancis. Oleh karena itu, apapun dan kapan pun penilaian yang dilakukan oleh manusia, tetap saja nilai sudah ada terlebih dahulu.

            Wilayah filsafat nilai terletak pada akal yang bisa membedakan (benar-salah), karsa (baik-buruk) dan rasa (indah-jelek).

            KESIMPULAN

            Dari pembahasan di atas dapat di tarik kesimpulan:
            1. Ontologi membahas mengenai hakikat. Objek yang menjadi kajian dalam ontologi tersebut adalah realitas yang ada. Dan dalam ontologi adalah studi tentang yang ada yang universal, dengan mencari pemikiran semesta universal. Ontologi berusaha mencari inti yang termuat dalam setiap kenyataan atau menjelaskan yang ada dalam setiap bentuknya.dalam ontologi merupakan studi yang terdalam dari setiap hakekat kenyataan, seperti dapatkah manusia sunguh-sungguh memilih, apakah ada Tuhan, apakah nyata dalam hakekat material ataukah spiritual, apakah jiwa sungguh dapat dibedakan dengan badan.

            2. Epistemologi studi tentang asal usul hakekat dan jangkauan pengetahuan. Apakah pengalaman merupakan satu-satunya sumber pengetahuan. Apakah yang menyebabkan suatu keyakinan benar dan yang lain salah. Adakah soal-soal penting yang tidak dapat dijawab dengan sains dan dapatkah kita mengetahui pikiran dan perasaan orang lain. Pengkajian dari epistemologi adalah hakekat pengetahuan yang terdiri empat pokok persoalan pengetahuan seperti keabsahan, struktur, batas dan sumber. Epistemologi berusaha menjawab bagaimana proses yang memungkinkan di timbanya pengetahuan yang berupa ilmu? Bagaimana prosedurnya? Hal-hal apa yang harus di perhatikan agar kita mendapatkan pengetahuan yang benar? Apa yang disebut kebenaran itu sendiri? Apakah kriterianya? Cara/tehnik/sarana apa yang membantu kita dalam mendapatkan pengetahuan yang berupa ilmu?

            3. Aksiologi atau etika studi tentang prinsip-prinsip dan konsep yang mendasari penilaian terhadap prilaku manusia. Contohnya tindakan yang membedakan benar atau salah menurut moral, apakah kesenangan merupakan ukuran dapat dikatakan sebagai ukuran yang baik, apakah putusan moral bertindak sewenang-wenang atau bertindak sekendak hati. Sedangkan estetika studi yang mendasarkan prinsip yang mendasri penilaian kita atas berbagai bentuk seni. Apakah tujuan seni, apa peranan rasa dalam pertimbangan estetis, bagaimana kita mengenal sebuah karya besar seni.menjawab, untuk apa pengetahuan yang berupa ilmu itu di pergunakan? Bagaimana kaitan antara cara penggunaan tersebut dengan kaidah-kaidah moral? Bagaimana penentuan objek yang ditelaah berdasarkan pilihan-pilihan moral? Bagaimana kaitan antara teknik prosedural yang merupakan operasionalisasi metode ilmiah dengan norma-norma moral?


            [1] Kosmologi berasal dari kata Yunani kosmos yang dipakai oleh Phytagoras untuk menggambarkan keteraturan dan keselarasan benda-benda langit. Kosmologi dikenal sebagai bagian dari ilmu pengetahuan alam. Dalam pengertiannya adalah setiap upaya manusia untuk memahami alam semesta yang kita huni. Kosmologi berbeda dengan ilmu astronomi. (http://id.wikipedia.org/kosmologi)

            [2] Aufklarung berasal dari Jerman artinya pencerahan, di Inggris disebut Enlightenment terjadi pada abad ke-18 yaitu suatu zaman baru di mana seorang ahli pikir yang cerdas mencoba menyelesaikan pertentangan antara rasionalisme dan empirisme. Zaman ini muncul di mana manusia lahir dalam keadaan belum dewasa dalam pemikiran filsafatnya. (http://id.wikipedia.org/aufklarung)

            [3] Monisme: konsep metafisika dan teologi bahwa hanya ada satu substansi dalam alam. Monisme bertentangan dengan dualisme dan pluralisme. Dalam dualisme terdapat dua substansi atau realita sementara dalam pluralisme terdapat banyak realita. (http://id.wikipedia.org/monisme)

            Credit:

            Jalaluddin dan Abdullah Idi. 2009. Filsafat Pendidikan. Yogyakarta: Ar Ruzz Media

            Poedjawijatna, Prof. IR. 2002. Pembimbing ke Arah Alam Filsafat. Jakarta: PT. Rineka Cipta.

            Q-Anees, Bambang dan Raden Juli A. Hambali. 2003. Filsafat untuk Umum. Jakarta: Prenada Media.

            Suriasumantri, Jujun S. 2005. Filsafat Umum Sebuah Pengantar Populer. Jakarta: Surya Multi Grafika.

            Tafsir, Ahmad. 2008. Filsafat Umum Akal dan Hati Sejak Thales sampai Capra. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.

            http://id.wikipedia.org/wiki/aufklarung
            http://id.wikipedia.org/wiki/kosmologi
            http://id.wikipedia.org/wiki/monisme
            Dan dari berbagai sumber

            Leave a comment

            Filed under filsafat umum

            Leave a Reply

            Fill in your details below or click an icon to log in:

            WordPress.com Logo

            You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

            Twitter picture

            You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

            Facebook photo

            You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

            Google+ photo

            You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

            Connecting to %s