PENDAHULUAN
Manusia tidak seperti benda-benda. Ia berada di tengah dunia dengan caranya yang khas. Yaitu bahwa manusia sadar akan benda-benda yang ada di sekitarnya. Kesadaran akan kehadiran yang lain ini melahirkan pengetahuan. Dalam proses mengetahui itu, manusia mencoba menggunakan apa yang dimilikinya, indera dan akal budi.
Tatkala manusia baru lahir, ia tidak mempunyai mempunyai pengetahuan sedikit pun. Nanti, ketika ia berumur 40 tahunan, pengetahuannya banyak sekali sementara temannya yang seumuran dengannya mungkin memiliki pengetahuan yang lebih banyak daripadanya dalam bidang yang sama ataupun berbeda. Bagaimana masing-masing dari mereka mendapatkan pengetahuan itu? Mengapa tingkat akurasinya bisa berbeda? Apakah pengetahuan tersebut didapatkan secara kebetulan atau merupakan kehendak Tuhan?
Mulai dari kebetulan hingga kehendak Tuhan inilah yang merupakan pengetahuan filsafat. Jawaban-jawaban itu semua hanya berdasarkan pemikiran logis, tanpa dukungan fakta empiris. Berpikir tanpa dukungan data seperti ini sering juga disebut berpikir spekulatif, dan inilah yang disebut filsafat.
Makalah ini akan memaparkan tentang filsafat yang secara garis besar dibagi menjadi tiga cabang, yaitu ontologi, epistemologi, dan aksiologi. Ontologi membicarakan tentang hakikat pengetahuan. Epistemologi membicarakan cara memperoleh pengetahuan. Sedangkan aksiologi membicarakan tentang teori nilai. Ketiga dari cabang filsafat tersebut termuat dalam tiga pertanyaan dimana dalam ontologi bertanya tentang apa. Pertanyaan apa tersebut merupakan pertanyaan dasar dari sesuatu. Sedangkan dalam epistemologi mengenalinya dengan menggunakan pertanyaan mengapa. Pertanyaan mengapa ini merupakan kelanjutan dari mengetahui dasar dan pertanyaan mengapa merupakan kajian bagaimana cara mengetahuinya tersebut. Sedangkan untuk aksiologi merupakan kelanjutan dari dari epistemologi dengan menggunakan pertanyaan bagaimana. Pertanyaan bagaimana tersebut merupakan kelanjutan dari setelah mengetahui dan cara mengetahuinya diteruskan dengan bagaimanakah sikap kita selanjutnya.
PEMBAHASAN
ONTOLOGI, EPISTEMOLOGI, DAN AKSIOLOGI
A. ONTOLOGI
Ontologi berarti ilmu hakikat yang menyelidiki alam nyata dan bagaimana keadaan yang sebenarnya, apakah hakikat di balik alam nyata ini. Ontologi menyelidiki hakikat dari segala sesuatu dari alam nyata yang sangat terbatas bagi panca indera kita. Bagaimana realita yang ada ini, apakah materi saja, apakah wujud sesuatu ini bersifat tetap, kekal tanpa perubahan? Apakah realita berbentuk satu unsur (monisme), dua unsur (dualisme), ataukah terdiri dari unsur yang banyak (pluralisme)?
Apa itu hakikat? Hakikat ialah realitas, realitas berasal dari kata real yang berarti nyata, realitas diartikan sebagai kenyataan yang sebenarnya. Jadi, hakikat adalah kenyataan yang sebenarnya, keadaan sebenarnya sesuatu, bukan keadaan sementara atau keadaan yang menipu, bukan keadaan yang berubah.
Kosmologi[1] membicarakan hakikat asal, hakikat susunan, hakikat berada, juga hakikat tujuan kosmos. Adapun hakikat manusia dbicarakan dalam ilmu antropologi, ini juga cabang teori hakikat. Pembahasan hakikat Tuhan dilakukan oleh theodicea, juga cabang dari teori hakikat. Theodicea sering juga disebut theologia yang membicarakan tentang filsafat agama. Filsafat agama juga termasuk ke dalam teori hakikat, demikian pula filsafat hukum, filsafat pendidikan, dan lain-lain.
Mula-mula kita bicarakan realitas benda-benda. Apakah sesuai dengan penampakannya (appearance) atau sesuatu yang bersembunyi di balik penampakan itu? Menjawab pertanyaan ini muncul 5 aliran, yaitu materialisme, idealisme, dualisme, skeptisisme, dan agnostisisme.
Materialisme merupakan faham atau aliran yang menganggap bahwa dunia ini tidak ada selain materi atau nature (alam) dan dunia fisik adalah satu. Menurut materialisme (sering disebut naturalisme), hakikat benda adalah materi, benda itu sendiri. Rohani, jiwa, spirit, dan sebangsanya muncul dari benda. Rohani dan kawan-kawannya itu tidak akan ada seandainya tidak ada benda. Bagi materialisme, roh, jiwa itu malahan tidak diakui adanya, tentu saja termasuk Tuhan. Materialisme tidak menyangkal adanya spirit, roh, termasuk Tuhan. Akan tetapi spirit, Tuhan itu muncul dari benda. Jadi, roh, Tuhan, spirit itu bukan hakikat.
Pada abad pertama masehi faham materialisme tidak mendapat tanggapan yang serius, bahkan pada abad pertengahan, orang masih menganggap asing faham ini. Baru pada zaman aufklarung (pencerahan)[2], faham ini mendapat tanggapan dan penganut yang penting di Eropa Barat. Pada pertengahan abad ke-19, faham materialisme semakin tumbuh subur, khususnya di Barat .
Tokoh-tokoh yang mendukung faham ini adalah:
1. Anaximenes (585-528 SM)
2. Anaximandros (610-545 SM)
3. Thales (625-545 SM)
4. Demokritos (460-545 SM)
5. Thomas Hobbes (1588-1679)
6. Lamettrie (1709-1715)
7. Feuerbach (1804-1877)
8. H. Spencer (1820-1903)
9. Karl Marx (1818-1883)
Idealisme adalah faham atau aliran yang menganggap bahwa realitas ini terdiri dari roh-roh (sukma) atau jiwa, spirit berbanding terbalik dengan materialisme. Idealisme ini merupakan aliran yang sangat penting dalam perkembangan sejarah pikiran manusia. Mula-mula
Beberapa pendapat ahli mengenai idealisme ialah:
- Nilai roh lebih tinggi daripada badan
- Manusia lebih dapat memahami dirinya daripada dunia luar dirinya.
- Materi ialah kumpulan energi yang menempati ruang, benda tidak ada, yang ada energi itu saja.
Tokoh-tokoh aliran idealisme yaitu:
1. Plato (477-347 SM)
2. B. Spinoza (1632-1677)
3. Liebniz (1685-1753)
4. Berkeley (1685-1753)
5. Immanuel Kant (1724-1881)
6. J. Fichte (1762-1814)
7. F. Schelling (1755-1854)
8. G. Hegel (1770-1831)
Dualisme adalah konsep filsafat yang menyatakan ada dua substansi. Dalam pandangan tentang hubungan antara jiwa dan raga, dualisme mengklaim bahwa fenomena mental adalah entitas non-fisik. Menurut faham ini, yang merupakan hakikat benda itu ada dua, material dan immaterial, benda dan roh, jasad dan spirit. Materi bukan muncul dari roh, dan roh bukan muncul dari benda. Keduanya sama-sama hakikat.
Dualisme adalah suatu aliran filsafat yang pandangannya bertitik tolak dari materi dan ide sekaligus. Dualisme memandang bahwa materi dan ide itu sama-sama primernya. Tidak ada yang sekunder. Kedua-duanya timbul dan ada persamaan. Materi itu ada karena ada ide atau pikiran. Juga sebaliknya, ide atau pikiran itu ada karena ada materi. Tapi pada hakekatnya, pandangan dualisme yang demikian itu juga idealis, karena pandangan seperti itu tidak lain hanya pada ide, dan tidak ada dalam kenyataan.
Dengan begitu, Filsafat materialisme adalah filsafat yang obyektif. Sebaliknya, filsafat idealisme adalah filsafat yang subyektif karena pandangannya bertitik tolak dari ide atau pikiran.
Gagasan tentang dualisme jiwa dan raga berasal setidaknya sejak zaman Plato dan Aristoteles dan berhubungan dengan spekulasi tantang eksistensi jiwa yang terkait dengan kecerdasan dan kebijakan. Plato dan Aristoteles berpendapat, dengan alasan berbeda, bahwa “kecerdasan” seseorang (bagian dari pikiran atau jiwa) tidak bisa diidentifikasi atau dijelaskan dengan fisik.
Versi dari dualisme yang dikenal secara umum diterapkan oleh René Descartes (1641), yang berpendapat bahwa pikiran adalah substansi nonfisik. Descartes adalah yang pertama kali mengidentifikasi dengan jelas pikiran dengan kesadaran dan membedakannya dengan otak, sebagai tempat kecerdasan. Sehingga, dia adalah yang pertama merumuskan permasalahan jiwa-raga dalam bentuknya yang ada sekarang.
Dualisme bertentangan dengan berbagai jenis monisme[3], termasuk fisikalisme dan fenomenalisme. Substansi dualisme bertentangan dengan semua jenis materialisme, tetapi dualisme properti dapat dianggap sejenis materialisme emergent sehingga akan hanya bertentangan dengan materialisme non-emergent.
Skeptisisme disebut-sebut sebagai sebuah aliran yang menekankan pada tidak adanya klaim terhadap kebenaran. Dengan kata lain, tidak ada kebenaran yang sempurna, adanya kebenaran relatif. Dalam arti yang modern, skeptisisme adalah sebuah pendekatan dalam menerima, menolak, menunda klaim (judgment) pada informasi baru lainnya yang digunakan sebagai bukti pendukung. Dalam hal hakikat, faham ini ragu apakah manusia mampu mengetahui hakikat. Mungkin dapat, mungkin juga tidak. Skeptisisme
Agnostisisme adalah suatu pandangan filosofis bahwa suatu nilai kebenaran dari suatu klaim tertentu yang umumnya berkaitan dengan teologi, metafisika, keberadaan Tuhan, dewa, dan lainnya yang tidak dapat diketahui dengan akal pikiran manusia yang terbatas. Seorang agnostik mengatakan bahwa adalah tidak mungkin untuk dapat mengetahui secara definitif pengetahuan tentang “Yang-Mutlak”; atau dapat dikatakan juga, bahwa walaupun perasaan secara subyektif dimungkinkan, namun secara obyektif pada dasarnya mereka tidak memiliki informasi yang dapat diverifikasi.
Dalam kedua hal ini maka agnostisisme mengandung unsur skeptisisme.
Agnostisisme berasal dari perkataan Yunani gnostein (tahu) dan a (tidak). Arti harfiahnya “seseorang yang tidak mengetahui”. Agnostisisme tidak sinonim dengan atheisme. Agnotisisme merupakan faham ketuhanan yang terletak antara teisme dan atheisme. Mereka itu bertuhan tidak dan tidak bertuhan juga tidak. Faham ini beranggapan bahwa manusia tidak mampu mengetahui hakikat Tuhan.
Baca Selengkapnya